(Bahasa Indonesian Translation)
Ini adalah homili saya yang pertama dalam bahasa indonesia, semoga ini bukan yang terakhir. Saya ingin berterima kasih kepada Romo Andrei yang membantu saya untuk menerjemahkan ini.
Saudara dan saudari yang terkasih,
Semua orang ada kecenderungan untuk lapar. Apa yang kita lakukan kalau kita lapar? Pasti, kita makan kan? Tetapi, kita tidak pernah merasa kenyang selamanya, kita akan lapar lagi, dan makan lagi.
Yesus berbicara tentang manna di padang gurun, dan roti yang sesungguhnya dari surga. Dulu, bangsa Israel makan sampai kenyang, kemudian mereka lapar lagi. Tetapi, setelah itu mereka seharusnya merasa kenyang, untuk selama-lamanya dan tidak lapar lagi.
Ada beberapa macam jenis kelaparan:
kelaparan akan makanan,kelaparan akan perhatian, kelaparan akan kekuasaan, kelaparan akan belas kasihan, kelaparan akan pendidikan, kelaparan akan solusi untuk masalah sehari- hari, kelaparan akan kasih.
Bagaimana kita bisa memuaskan rasa lapar kita?
Apakah kita percaya apa diri sendiri saja? atau kita cukup percaya dengan orang lain?
Apakah kita mencari solusi dengan menyenangkan diri sendiri untuk melupakan masalah masalah kita? Atau apakah kita berani menghadapi masalah dan menyelesaikannya?
Apakah kita menyimpan masalah tersebut dalam diri kita? atau kita mengadiri perayaan ekaristi, mendapat kekuatan dari komuni kudus, dan mengunjungi sakramen maha kudus?
Mana yang paling memuaskan, dan membuat kita kenyang salama-lamanya?
Dan mana yang membuat kita lapar lagi?
Hari ini, dengan penuh syukur kita rayakan pesta Santo Antoninus dari Florence, seorang uskup Dominikan. Sembilan tahun yang lalu, Limabelas frater mengucapkan kaul pertamanya dalam ordo dominikan di manaoag pangasinan filipina. Empat sudah menjadi imam dominikan, satu imam projo, dan dua diakon. Saya dan romo andrei termasuk dari group ini.
Kami bergabung di ordo dominikan ini untuk melayani gereja, dan untuk merasakan kenyang selama lamanya dan tidak merasakan kekurangan apapun. Doakan kami yang tidak berharga ini , supaya kami tetap setia kepada janji kami dan selalu menemukan roti dari surga dalam panggilan hidup yang sudah kami pilih ini.(Original English Version)
This is my first bahasa indonesia homily, and hopefully it will not be the last. I would like to thank Romo Andrei for helping me translate it from english to bahasa.
All of us havethe tendency to get hungry. And what do we do when we are hungry? Ofcourse, we eat. But our feeling of being filled will not last long, we will again feel hungry and eat once again. Jesus speaks of manna from the desert and the true bread from heaven. The former, the Israelites ate, where filled but where hungry again. The later was suppose to make them filled forever and never go hungry again. Jesus is the true bread from heaven, those who believe in him will be filled forever, and will never get hungry. There are a lot of kinds of hunger during our time, hunger for food, hunger for attention, hunger for power, hunger for mercy, hunger for education, hunger for solution to life’s daily problems, hunger for love. Where do we go to satisfy our hunger? Do we relly on people for help, or do we solely relly on our selves? Do we go to certain places of entertainment to get drunk in order to forget our problems or do we face them in order to solve them? Do we rather stay alone in our room and keep everything to ourselves, or attend mass, find strength in holy communion and in visiting the blessed sacrament?
In all the places we go to, which ones make us filled for a long time and which ones just make us hungry again?
Providentialy, today on the feast of St. Antoninus of Florence, a Dominican bishop, 15 young men professed obedience to the order of preachers in 2002, in manaoag pangasinan. And now 4 are Dominican priests, one diocesan, and two deacons. Me and romo andrei are part of this group. We joined the order to serve the church and found ourselves always filled, inspired and lacking in nothing. Please pray that we will always be faithful to our promises and always find the true bread from heaven in our chosen vocation.
No comments:
Post a Comment